PERI CINTAKU
Aku mungkin
telah jatuh, sangat dalam sampai kau tidak tahu. Aku menginginkanmu, Sangat
ingin sampai kau pun tak tahu. aku sesak menahan perasaan yang tidak bertepi
ini, tanpa ujung dan tanpa tujuan. Aku hanya bersembunyi dari semua kenyataan
yang menghadang. Hujan pun tak tahu betapa aku menginginkanmu. Haruskah aku
berteriak? Haruskah aku mengumumkannya? Hingga dunia,cakrawala,dan mayat tahu?
haruskah? Ya...mungkin walau aku harus menanggung malu telah menjilat ludahku
sendiri. Tahukanh kamu aku tertawa, tersenyum,dan bahagia dalam duka?
Keadaan begitu menyedihkanbukan? Bagai
menuangkan garam dalam luka. Aku ingin berteriak, tapi lidahku keluh. Terbius
oleh ketegangan yang datang. Aku injgin berlari, namun kakiku tak kuat untuk
melangkah. Lumpuh dalam ketakutan. Katakan....ku mohon katakan padaku. Satu
kata saja cukup. Asal kau berbicara padaku... tak perlu lama dan tak perlu
menatapku. Aku hanya ingin satu keluar dari mulutmu untuk diriku. Karena aku
tahu kaupun mengnginkanku...
Takdir
memang kadang tak sejalan dengan harapan. Asa tak selamanya dapat dijalin, dan
keaadaan tak selalu berpihak pada kita. Sebuah tembok raksasa memisahkan kita,
antara aku dan kau sekat membentang tanpa batas. Bagaimanapun cepatnya aku
berlari, sekuat apapun aku berusaha, dan sedalam apapun rasa ini padamu. Aku
jua tak akan sampai padamu, begitupun dikau, Kau tak pernah dapat meraihku....
Ingatatkah
kau dengan pertemuan pertama kita? Pertemuan yang tidak pernah kita duga
sebelumnya akan menumbuhkan benih cinta pada hatiku dan hatimu. Dimana di kala
itu, di bawah gerimis di kota tua kita berjumpa dengan pakaian yang sama-sama
basah tersiram air hujan yang tak kenal toleransi. Bibirmu bergetar, dan kau mendekap sebuah map
di dadamu, aku tahu map itu pasti sangat berharga untukmu. kaupun tersenyum
padaku, senyum orang asing yang ramah.
dan aku membalasnya, entah
kenapa....
Pertemuan
singkat itu mendapat ruang dalam hatiku, tiap malam, dalam mimpi senyum itu
selalu hadir. Sangat indah hingga terkadang ingin rasanya tak bangun. Tapi
ya..itu hanya mimpi bukan?dan Setiap mimpi pasti akan kembali pada kenyataan.
Hingga pada suatu hari senin kita kembali berjumpa di toko buku. Ini mungkin
takdir atau hanya kebetulan, tapi yang jelas aku bahagia dan kaupun kembali
tersenyum, senyum yang sama di kota tua itu....
1 minggu, 2 minggu, 1 bulan, dan 3
bulan. Ya...3 bulan sudah setelah pertemuan di kota tua itu, semuanya terasa
begitu indah bagiku, bahagia sampai-sampai aku tak tahu lagi melukiskannya.
Benih itu telah tumbuh dan bersemi. Iya kan? Di hatimu pun pasti begitu, aku
tahu...karena kau pernah mengatakannya. Kita hampir tiap hari bertemu,
berjalan, bercanda, dan tertawa bersama, dan aku tahu kita sama-sama
menikmatinya...
Dan
masih ingatkah kamu dengan hari minggu kelam itu? Hari dimana kamu menunjukkan
tembok raksasa pemisah kita. yang membuat rongga dadaku sesak, hampir tak bisa
bernafas. Gemetar, sampai tangispun tak dapat jatuh. Pucat, dan sangat pasi.
Masih ingatkah kau perkataanmu? Masih ingatkah kau dengan apa yang kau tunjukan
padaku? Dan masih ingatkah kamu tempat apa yang kita datangi kala itu? Hari tu
terkuak sudah tentang apa yang selalu membuatmu gelisah...
Ya...Kita berhenti di depan sebuah
gereja, kau mengeluarkan sesuatu dari kantung kemejamu, dan itu adalah kalung salib. Kau menatapku sendu,sangat
sendu... wajahmu diliputi mendung. Tanpa kau beri penjelasanpun aku telah tahu
hanya dengan melihat kalung itu, namun aku
menjadi bodoh... sehingga aku bertanya padamu dan berharap agar kau
menjawab bahwa apa yang ku kira itu adalah salah. Tapi apa.... kau diam...dan
diammu membenarkan asumsiku. Aku ambruk, Tapi tak jatuh. dinding itubenar-benar
telah berada di depan mata kita, sangat dekat . sampai-sampai aku tak bisa
memengang jemarimu. Lama kita saling berpandangan dengan sungai kecil di pipi
kita, aku membisu dan begitupun kau. Aku tak tahu harus mengatakan apa dengan
kenyataan itu, sampai kaupun berkata “ aku menyukaimu bukan sekedar sebagai
teman, maka aku menunjukkan ini, jati diriku. Aku tak bisa bersamamu karena perbedaan ini. Aku melakukan ini bukan
untuk menyakitimu,aku hanya tak ingin rasa yang kita rasakan ini semakin dalam
dan pada akhirnya jelas akan lebih menyakitkan.kenyataannya, aku
jelas-jelas tak bisa berpaling keyakinan
karena aku percaya dengan tuhanku, dan aku juga yakin kaupun begitu kan?. Jujur
saja Awalnya kupikir aku bisa membujukmu untuk ikut denganku, namun mendengar apa
yang kau sering ceritakan kepadaku tntang tuhanmu membuatku ragu untuk
melakukannya. Ada rasa bersalah yangmenyelip batinku, dan rasa bersalah itu
jelas mengekangku.ini sungguh pedih...sangat pedih untukku dan untukmu. Tuhan
mungkin satu..,tapi kita yang berbeda. sekali lagi maafkan aku”. Kala itu air
mataku tak terbendung lagi mendengarmu, aku sungguh lunglai dengan kenyataan
yang harus kita hadapi. Lonceng gereja terdengar bebrapa kali dan kau masuk ke
dalam gereja tanpa kata-kata, meninggalkanku yang terpaku.
Semenjak saat itu sampai saat ini
kita tak pernah bertemu lagi, kau menjauh begitupun aku. Mungkin karena kita
sama-sama menyadari takdir yang telah di
suratkan. Meskipun harus kuakui rasa padamu tak pernah luntur. Rasa ini masih
sama dengan rasa yang dulu, Bagaimana dengaanmu? Sudah kau lupakankah aku?. Aku
takut mendengar jawabannya, karena walau jawabannya yes or no maka dampaknya
akan sama-sama menyakitkan. Iya kan?. Aku disini memang masih menantimu,
menanti kata yang ingin kau ucapkan untukku. Cukup satu saja, tak usah menatap
ku dan tak usah lama, aku hanya ingin mendengarnya... kata apa saja.
Waktu mungkin bisa menjawab semuanya,
dan aku akan berjalan bersama waktu untuk melupakanmu. Kami akan bersama-sama
menghapus kenangan 3 bulan itu. Dan aku akan selalu tegar seperti pohon,sekuat
baja, dan setangguh batu karang. Satu lagi yang aku sadari: kamu dan aku itu
seperti bulan dan matahari yang tidak akan pernah bisa bersatu di atas langit
yang sama....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar